Rabu, 06 Mei 2009

DOA DALAM PUISI

Doa dalam Puisi
oleh Agus Nasihin

Puisi Doa: yang Berjudul “Doa” dan yang Mengandung Kata “Doa”

Para penyair dalam menuliskan puisinya yang berkaitan dengan doa banyak yang memberi judul ”Doa”, seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Budiman S. Hartoyo, Ajip Rosidi, Abdul Hadi, Taufiq Ismail, Sutardji, Rachmat Djoko Pradopo. Pada umumnya puisi-puisi yang hanya berjudul ”Doa” berkaitan dengan permohonan individu penyairnya. Penggunaan aku lirik sangat dominan dalam puisi-puisi yang berjudul ”Doa” ini.
Sebagian besar penyair menulis puisi dengan judul yang mengandung kata ”doa” yang ditujukan untuk orang lain (komunitas tertentu) atau merupakan identifikasi penyair terhadap orang lain (komunitas tertentu), seperti ”Doa Poyangku” Amir Hamzah, ”Doa Orang Kubangan” Taufiq Ismail, ”Doa Putih Pembakar Kapur” Toto Sudarto Bachtiar, ”Doa Para Pelaut yang Tabah” Sapardi Djoko Damono, ”Doa Seorang WTS” Subagio Sastrowardoyo, ”Doa untuk Anakku” Emha Ainun Nadjib, ”Doa Perempuan” Miranda Risang Ayu”. Judul-judul seperti ini menunjukkan dengan jelas keberpihakan penyair kepada orang-orang yang disebutkan dalam judul sajaknya. Penyair sudah tidak berbicara lagi tentang dirinya, keinginan-keinginan dirinya, tetapi sudah menjadi pembela bagi orang lain; menjadi pembela kaum yang tertindas.
Selain kedua jenis judul di atas, terdapat juga judul yang mengandung kata ”doa” berkaitan dengan suasana atau tempat, seperti puisi ”Doa di Jakarta” W.S. Rendra, ”Dalam Doa” Sapardi Djoko Damono, ”Doa di Tengah Massa” Emha Ainun Nadjib, ”Doa Penutupan Penataran P4” Mustofa Bisri, ”Doa Malam” Ahmadun Y. Herfanda. Puisi-puisi ini menunjukkan suasana atau keadaan yang perlu mendapat perhatian karena ada sesuatu yang dirasakan ganjil atau sangat penting oleh penyair.

Puisi Doa: Permintaan, Pengakuan, dan Cinta

Doa dalam puisi banyak yang berisi tentang permintaan. Dalam puisi “Doa” Ajip Rosidi yang hanya satu bait berisi permintaan kepada Tuhan.
Tuhan. Beri aku kekuatan
Menguasai diri sendiri, kesunyian
dan keserakahan. Beri aku petunjuk selalu
untuk memilih jalanMu, keridoanMu, amin.

Demikian pula dalam puisi “Doa”, Amir Hamzah menginginkan sesuatu dari kekasihnya (Tuhan) sebagai suatu permintaan,
Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu,
Penuhi dengan cahayamu, biar bersinar mataku
sendu, biar berbinar gelakku rayu!
Berbeda dengan Ajip Rosidi, Amir Hamzah memulai puisi ”Doa”nya dengan memuji-muji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya karena Tuhannya telah memberi kesejukan yang diibaratkan senja setelah terik matahari.
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas terik,
angin malam mengembus lemah, menyejuk
badan, melambung rasa,
menayang fikir, membawa angan ke bawah kursimu

Puisi “Doa” Taufiq Ismail dapat dikategorikan ke dalam puisi yang berisi pengakuan dan kehinaan diri, kemudian disusul dengan permohonan berupa pengampunan dari Tuhan.
Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
Pengakuan akan dosa juga tampak pada puisi ”Doa” Budiman S. Hartoyo, seraya memohon agar Tuhan tidak berpaling.
Betapapun, ya Allah
jangan palingkan WajahMu
Betapapun kusandang dosa-dosaku
dan dengan rasa malu
aku datang menghadapMu
Walaupun tidak berbicara tentang dosa, Chairil Anwar juga mengungkapkan pengakuan di hadapan Tuhannya, mengakui akan kelemahan dirinya, Tuhanku/ aku hilang bentuk/ remuk.
Dalam puisi “Doa” Amir Hamzah tampak sekali bahwa Tuhan sebagai seorang kekasih, Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Doa yang dipanjatkan oleh Amir Hamzah doa penuh cinta. Demikian pula dengan puisi “Doa” Chairil Anwar memperlihatkan kekuatan cinta kepada Tuhan, Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namaMu/ Biar susah sungguh/ mengingat Kau penuh seluruh. Pada bait terakhir secara tersirat Chairil pun membutuhkan uluran tangan Tuhan supaya mau membuka pintu-Nya.
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Kecintaan penyair yang sangat besar kepada Tuhannya terasa pula dalam puisi “Doa I” Abdul Hadi W.M. Tuhanlah yang menyediakan segala sesuatu. Kalau ada yang kenyang, Tuhanlah yang mengulurkan tangan, membuat manusia kenyang. Tuhanlah yang memberi nasi. Akan tetapi, Tuhan pun ikut meneteskan air mata jika ada makhluk-Nya yang kelaparan dan berebut nasi. Tuhan ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat imanen. Tuhan merupakan refleksi dari tangan, kenyang, dan nasi.
Kalau ada tangan yang mengulurkan kenyang dari perut nasi
hingga enyah lapar ini, Kaulah tangan itu.
Kalau ada kenyang yang meliputi nasi hingga tergerak tangan
ini membukanya, Kaulah kenyang itu.
Kalau ada nasi yang menghidupkan kembali jiwa lapar hingga
bangkit kekuatan tangan ini, Kaulah nasi itu.
Tapi kalau ada lapar yang bergerak menggeliat merebut nasi
untuk sekedar kenyang hingga tergoncang seluruh bumi,
Kaulah airmata ini.
Hal yang sama terdapat dalam puisi ”Doa Putih Pembakar Kapur” karya Toto Sudarto Bachtiar
Terbungkuk di bawah keranjang batu
Sehidup suntuk kudaki tangga waktu
Terhuyung-terhuyung satu satu
Tetapi aku masih tetap cinta pada-Mu

Puisi Doa: Permohonan Individual dan Permohonan Sosial
Puisi yang berkaitan dengan doa pada umumnya berbicara tentang individu sebagai aku lirik atau subjek lirik. Seruan-seruan yang ditujukan kepada Tuhan merupakan seruan retoris subjek lirik.
Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu,
Penuhi dengan cahayamu, biar bersinar mataku
sendu, biar berbinar gelakku rayu!
Yang menjadi isi permohonan Amir Hamzah di atas adalah agar diri subjek lirik diterangi dengan sinar Tuhan.
Dalam puisi Budiman S. Hartoyo, aku lirik yang merasa banyak dosa memohon kepada Tuhan agar tidak memalingkan wajahnya. Betapapun, ya Allah/ jangan palingkan WajahMu/ Betapapun kusandang dosa-dosaku/ dan dengan rasa malu/ aku datang menghadapMu
Sementara itu, yang dimohon oleh Ajip Rosidi adalah kekuatan untuk menghadapi hawa nafsu, kesunyian, dan keserakahan, Tuhan. Beri aku kekuatan/ Menguasai diri sendiri, kesunyian/ dan keserakahan./ Beri aku petunjuk selalu/ untuk memilih jalanMu, keridoanMu, amin.
Pembicara dalam puisi Toto Sudarto Bachtiar ”Doa Putih Pembakar Kapur” pun menggunakan subjek lirik, tetapi puisi ini dengan jelas terlihat siapa aku lirik yang dimaksud, pembakar kapur. Subjek lirik bukanlah si penyairnya, melainkan pembakar kapur yang menerima takdirnya dan harus tetap bersyukur dengan keadaannya. Yang menjadi permohonannya adalah agar Tuhan mau mendengar rintihan kerinduannya.
Terbungkuk di bawah keranjang batu
Sehidup suntuk kudaki tangga waktu
Terhuyung-terhuyung satu satu
Tetapi aku masih tetap cinta pada-Mu

Dalam gaung nyanyian asap putih
Tidakkah Kau dengar rinduku yang merintih?
Takdir-Mu telah mengantarku ke sini
Ke kehidupan garang masa kini
Cara yang sama dilakukan oleh Subagio Sastrowardoyo, aku lirik dalam puisi “Doa Seorang WTS“ adalah seorang WTS. Puisinya berisi pengaduan terhadap Tuhan agar Tuhan mau memaklumi pekerjaan yang dilakukannya. Kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa terpenuhi dengan hanya mengandalkan gaji suami.
Tuhan, jangan harapkan saya sempurna.
Kesucian saya tak mungkin bisa pulih.
Laki saya kerja di pabrik rokok. Yang
dibawa pulang saban bulan Cuma
10.000. Selebihnya dihabiskan di mainan
judi buntut. Sedang anak-anak masih
kecil, tiga. Yang sulung baru kelas dua
SD. Mereka perlu makan, perlu obat
kalau sakit.
Selain persoalan aku lirik sebagai individu, pembicara dalam puisi doa dapat berupa subjek lirik yang mengatasnamakan kelompok dengan menggunakan kata ”kami”, seperti pada puisi ”Doa” Taufiq Ismail,
Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
Beberapa puisi doa bermuatan doa subjek lirik yang ditujukan untuk orang lain, seperti puisi ”Doa untuk Anakku” Emha Ainun Nadjib atau puisi ”Sajak Doa” Ahmadun Y. Herfanda yang ditujukan kepada Kuntowijoyo. Dalam puisi ”Doa untuk Anakku”, Emha memohon agar Tuhan tidak memanjakan anaknya, bahkan sebaliknya subjek lirik memohon agar anaknya diberi ujian, diberi hukuman, diberi cambukan agar dapat menjadi manusia yang kuat: Janganlah Kaumanjakan ia/ Jangan Kauistimewakan kemurahan baginya/ Agar cepat ia mengenali dirinya/ Dan mengerti bahasa tetangganya. Sementara itu, Ahmadun dalam puisinya memohon kesembuhan bagi sahabatnya sesama penyair, yaitu Kuntowijoyo,
tuhanku, hari ini aku bersimpuh
di hadapanmu, mengangkat tangan
dalam linangan air mata sejati
memohon kesembuhan sahabat kami
guru kami, yang kini terbaring
tak berdaya di pangkuanmu

Pembicara yang mengatasnamakan ”kami” terdapat pada puisi doa, seperti pada puisi Sapardi, ”Doa Para Pelaut yang Tabah”, puisi Emha Ainun Nadjib, “Doa untuk Hari Esok Kami” atau puisi Mustofa Bisri “Doa Penutupan Penataran P4”. Dalam puisi Sapardi, misalnya permohonan yang disampaikan berkenaan dengan kekuatan untuk dapat terus mengarungi lautan,
selalu bajakan otot-otot lengan kami, ya Tuhan,
yang tetap mengayuh entah sejak kapan
barangkali akan segera memutih rambut kami ini,
satu demi satu merasa letih, dan tersungkur mati,
tapi berlaksa anak-anak kami akan memegang dayung
serta kemudi
menggantikan kami
Puisi-puisi yang menggunakan aku lirik pada umumnya berbicara tentang kepentingan individu atau permohonan diri si aku lirik yang sangat mungkin adalah si penyair sendiri. Akan tetapi, ada pula pembicara dalam puisi doa sebagai aku lirik yang berdimensi sosial, misalnya doa yang dipanjatkan aku lirik ditujukan untuk orang lain. Puisi doa yang menggunakan pembicara sebagai seseorang atau sekelompok orang dimaksudkan sebagai doa yang berdimensi sosial. Demikian pula penggunaan kata ganti ”kami” dalam doa menunjukkan bahwa doa tersebut tidak ditujukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi ditujukan pula untuk kemaslahatan orang banyak.

Puisi Doa: sebagai Kritik Sosial
Puisi doa yang ditulis oleh para penyair dimanfaatkan pula untuk menyampaikan kritik sosial. Dalam puisinya yang lain “Mendoakan Khatib Jumat agar Mendoakan” Taufiq Ismail mengkritik para khatib di mimbar Jumat yang sering luput dari perhatian masalah sosial, masalah-masalah kaum muslimin yang terabaikan. Puisi ini merupakan kritik sosial. Walaupun judulnya mengandung kata “doa”, isinya tidak berkaitan dengan permintaan.
Berminggu-minggu debu Galunggung menyusupi kota-kota
Beratus-ribu saudara kita jatuh sengsara
Di Kalimantan berjuta hektar hutan terbakar
Asapnya menutup Asia Tenggara, apinya berbulan menjalar-jalar
Aku masuk sebuah masjid suatu Jumat tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka
...........................
Puisi Mustafa Bisri ”Doa Penutupan Penataran P4” dimaksudkan sebagai kritik terhadap ritual penataran yang ”sok moralis”, tetapi setelahnya perilaku petatar banyak yang tidak menghayati dan tidak mengamalkan Pancasila. Puisi ”Doa Para Penguasa Sepanjang Masa” karya Hamid Jabbar yang isinya hanya satu kata ”Aman” merupakan kritik yang pedas terhadap para penguasa yang doanya hanya berkenaan dengan upaya ”mengamankan” kedudukannya.
Puisi ”Doa di Jakarta” karya W.S. Rendra tidak luput dari kritik sosial tentang keadaan kota Jakarta yang sudah mulai kehilangan ”kemanusiaan”, lingkungan yang kotor, dan tipu daya yang sudah menjadi budaya.
Tuhan Yang Maha Esa
alangkah tegangnya
melihat kehidupan yang tergadai,
pikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan

Puisi Doa: Metafora yang Imanen
Penggunaan majas dalam puisi-puisi doa tampak khas karena yang diajak berdialog adalah Tuhan yang harus dipuji, dihormati, dan dicintai. Permohonan haruslah disampaikan dengan cara-cara yang sangat santun agar permohonan itu dikabulkan. Dalam puisi Amir Hamzah, Tuhan diibaratkan sebagai kekasih. Tuhan sebagai kekasih diibaratkan senja yang memberikan kesejukan setelah berlalunya terik matahari siang hari. Sementara itu, manusia sebagai makhluk yang siap menerima kata dan kasih Tuhan. Dalam puisi Chairil Anwar Tuhan diibaratkan sebagai cahaya panas suci yang bagi dirinya tinggal kerdip lilin, sementara manusia sebagai makhluk yang lemah, hilang bentuk – remuk. Metafor cahaya bagi Tuhan digunakan juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam sajaknya “Dalam Doa I”, kupandang ke sana: Isyarat-isyarat dalam cahaya/kupandang semesta ketika Engkau seketika memijar dalam Kata
Dalam puisi “Doa” Budiman S. Hartoyo, Tuhan merupakan sesuatu yang imanen, Tuhan sangat dekat dengan manusia. Tuhan melihat tingkah polah manusia. Manusia pun dalam puisi ini mengenali, bahkan melihat Tuhannya, bahkan manusia diibaratkan gasing yang diputar-putar
Tuhan,
Ya, betapapun telah Kausaksikan
polah tingkahku selama ini
seperti mainan gasing di tengah galau kehidupan
yang Kauputar-putar
Dalam puisi “Doa I” Abdul Hadi menempatkan Tuhan sebagai pemeran utama. Tuhan sebagai tangan yang mengulurkan makanan. Tuhan sebagai kenyang itu sendiri. Tuhan sebagai nasi. Tuhan sebagai airmata ketika melihat kelaparan. Dalam puisinya yang lain, “Doa II” Abdul Hadi menempatkan Tuhan sebagai yang imanen karena berumah di air dan di udara, Tuhan, kami yang berumah di udara dan air,/ bahagia beroleh angin dapat lagi mengalir...Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup tanpa air dan udara. Manusia setiap hari bernafas dan meminum air untuk kelangsungan hidupnya.
Kelemahan manusia juga tampak pada puisi Sapardi “Doa Para Pelaut yang Tabah”. Manusia tidak akan mampu terus menerus mengayuh perahu, maka kekuatan Tuhanlah yang diharapkan agar para pelaut dapat mewariskan kemampuannya kepada anak-anaknya. Dalam puisi W.S. Rendra “Doa Seorang WTS” manusia mengakui dirinya sebagai makhluk yang tidak sempurna dan Tuhan diminta untuk memakluminya.
Yang cukup unik adalah manifestasi Tuhan dalam puisi “Doa” Sutardji Calzoum Bachri. Dia menyebut Tuhan sebagai Bapak Kapak,
O Bapak Kapak
beri aku leherleher panjang
biar kutetak
biar ngalir darah resah
ke sanggup laut
Mampus!
Sementara itu, Ahmadun Y. Herfanda dalam puisi “Doa Pembuka” mengambil perumpamaan dari hadis Qudsi. Tangan, kaki, lidah, mata, dan telinga manusia yang selalu berzikir adalah tangan, kaki, lidah, dan mata Tuhan. Bentuk kesatuan antara manusia dengan Tuhannya merupakan bentuk penempatan Tuhan secara imanen

Daftar Rujukan
Al-Ahify, Syaikh Muhammad Mahdi. 1994. Muatan Cinta Ilahi dalam Doa-doa Ahlul Bayt. Bandung: Pustaka Hidayah.
Bachtiar, Toto Sudarto. 2001. Suara, Etsa, Desah. Jakarta: Grasindo.
Bisri, Mustofa. 1990. Ohoi: Kumpulan Puisi Balsem. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Herfanda, Ahmadun Yosi. 1996. Sembahyang Rumputan. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Ismail, Taufiq. 2000. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: Yayasan Indonesia.
Jabbar, Hamid. 1998. Super Hilang. Jakarta: Balai Pustaka.
Jabrohim. 2003. Tahajud Cinta Emha Ainun Najdib. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sukardi (ed.). 2000. Kuliah-Kuliah Tasawuf. Bandung: Pustaka Hidayah.
Leaman, Oliver. 2005. Estetika Islam. Bandung: Mizan
Nadjib, Emha Ainun. 1993. Sesobek Buku Harian Indonesia. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Sastrowardoyo, Subagio. 1990. Simfoni Dua. Jakarta: Balai Pustaka.
Syariati, Ali.1995. Doa Sejak Ali Zainal Abidin hingga Alexis Carrel. Bandung: Pustaka Hidayah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar